Candi Mendut, Magelang Jawa Tengah

Candi Mendut adalah salah satu candi bercorak Budha yang cukup populer di Indonesia yang terletak di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar 38 km ke arah barat laut dari kota Yogyakarta. Lokasinya hanya sekitar 3 km dari Candi Borobudhur, yang mana Candi Buddha ini diperkirakan mempunyai kaitan erat dengan Candi Pawon dan Candi Mendut. Candi-candi tersebut terletak pada satu garis lurus arah utara-selatan. Atau bisa lihat disini 7°36′17.17″S 110°13′48.01″E
HTM : Rp. 3.500,-
Buka/tutup : 07.00 – 18.00 WIB
Meski hanya terdiri dari 1 candi tapi bisa jadi alternatif setelah ke borobudhur lho. Apalagi kalo kalian dateng pas subuh bakal dapet pemandangan super bagus. Kalo dah capek berkelilingn berfoto, ada kelapa muda dan kupat tahu yang enak di bawah pohon yang rindang.

Candi Mendut, Magelang Jawa Tengah
Candi Mendut, Magelang Jawa Tengah

Sejarah Candi Mendut
Candi Mendut ini didirikan pada waktu semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut.
Candi mendut ditemukan kembali pada tahun 1836 seluruh bangunan candi Mendut diketemukan, kecuali di bagian atapnya. Pada tahun 1897-1904, pemerintah Hindia Belanda melakukan uapaya pemugaran, dan hasilnya Kaki dan tubuh candi telah berhasil direkonstruksi. Pada tahun 1908, Van Erp memimpin rekonstruksi dan pemugaran kembali Candi Mendut, yaitu dengan menyempurnakan bentuk atap, memasang kembali stupa-stupa dan memperbaiki sebagian puncak atap. Perbaikan sempat terhenti karena kekurangan dana, namun dilanjutkan kembali pada tahun 1925. Berkat upaya rekonstruksi ini, saat ini kita dapat menikmati keunikan candi mendut sambil mempelajari sejarah candi mendut dan pesan dibalik setiap arsitekturnya.

Arsitektur Candi Mendut
Bahan-bahan bangunan candi sebenarnya adalah batu bata yang ditutupi dengan batu alam. Candi ini terletak pada sebuah basement yang tinggi, sehingga tampak lebih anggun dan kokoh. Tangga naik dan pintu masuk menghadap ke barat-daya. Di atas basement terdapat lorong-lorong yang mengelilingi candi. Atapnya bertingkat tiga dan dihiasi stupa-stupa kecil jumlahnya stupa-stupa kecil sekarang ada 48 buah. Candi mendut memiliki denah dengan bentuk persegi. Candi mendut memilki Tinggi bangunan 26,4 meter.
Tubuh candi berada di atas batu dengan tinggi 2 m. Di permukaan batu tersebut memilki selasar yang lebar. Di dinding candi terdapat beberapa relief cerita, serta pahatan bunga yang menandakan corak dari candi mendut. Jika anda berkunjung ke candi mendut anda akan dapat melihat beberapa saluran air untuk membuang air dari selasar di sepanjang dinding luar Bagian saluran ini disebut dengan jaladwara. Jaladwara ini menjadi ciri khas pada candi candi yang ada di kawasan Jawa Tengah & Yogjakarta, seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur, Situs Ratu Baka dan Candi Banyuniba. Tetapi bentuk jaladwara tidaklah sama, memilki ciri sendiri sesuai dengan ciri khas candi tersebut. Bagian tangga candi mendut terletak di sisi barat candi yang juga tepat berada di depan pintu masuk ke dalam tubuh candi. Di pintu masuk candi ini, Anda bisa melihat bilik penampil yang menjorok keluar dan memiliki tinggi yang serupa dengan atap candi sehingga terlihat menyatu dengan tubuh candi. Pintu masuk tubuh candi ini tidak memiliki garupa ataupun bingkai pintu seperti candi lainnya. Bilik ini memiliki bentuk beberapa lorong dengan langit berongga rongga memanjang dengan penampang segi tiga.

Relief Brahmana dan seekor kepiting di candi mendut
Relief Brahmana dan seekor kepiting

Relief Brahmana dan seekor kepiting
Brahmana yang bernama Dwijeswara. Ia sangat menyayangi terhadap segala macam hewan.
Dia berjalan untuk bersembahyang di gunung dan berjumpa dengan seekor kepiting di puncak gunung yang bernama Astapada, lalu dibawa di pakaiannya. Dan kata sang brahmana: “Akan kubawa ke sungai, sebab aku merasa kasihan.” dan iapun berjalan dan berjumpa dengan sebuah balai peristirahatan di tepi sungai. Lalu dilepaskanlah si kepiting oleh sang brahmana. Si Astapada merasa lega hatinya. Sedangkan sang brahmana beristirahat di balai-balai ini. Ia tidur dengan nikmat, hatinya nyaman.
Ada seekor ular yang berteman dengan seekor gagak dan merupakan ancaman bagi sang brahmana. Kata si ular kepada kawannya si gagak: “Jika ada orang yang datang ke mari untuk tidur, ceritakan padaku, aku akan mangsanya.”
Si gagak melihat sang brahmana tidur di balai-balai. Ayo segeralah keluar si ular katanya: “Aku ingin memangsa kawan.”.
Si kepiting yang dibawa oleh sang brahmana mendengar rencana tersebut. Lalu kata si kepiting di dalam hati: “Aduh, sungguh buruk niatan kejahatan si gagak dan ular.” Lalu terpikir olehnya bahwa si kepiting berhutang budi kepada sang brahmana. Ia ingin melunasi hutangnya, dan pikirnya. “Ada siasatku, aku akan berkawan dengan keduanya.” Maka ujar si kepiting, “Wahai kedua kawanku, akan kupanjangkan leher kalian, agar lebih nikmat kalau kalian ingin memangsa sang brahmana.” – “Aku setuju dengan usulmu cepat laksanakanlah dengan segera.” Begitulah kata si gagak dan si ular. Kedua-keduanya ikut menyerahkan leher mereka dan disupit di sisi sana dan sini oleh si kepiting dan keduanya langsung putus seketika dan matilah si gagak dan si ular.

Relief Angsa dan kura-kura di candi mendut
Relief Angsa dan kura-kura

Relief Angsa dan kura-kura
Pada relief ini terdapat lukisan lukisan tentang cerita hewan yang dikenal dari Pancatantra atau jataka. Namun cerita yang disajikan di bawah ini agak berbeda versinya dengan lukisan di relief ini:

Ada kura-kura bertempat tinggal di danau Kumudawati. Danau itu sangat permai, banyak tunjungnya beranekawarna, ada putih, merah dan (tunjung) biru.
Ada angsa jantan dan betina, berkeliaran mencari makan di danau Kumudawati yang asal airnya dari telaga Manasasara. Nama angsa itu, si Cakrangga angsa jantan, si Cakranggi angsa betina. Mereka itu bersama-sama tinggal di telaga Kumudawati.
Dan sudah lamalah bersahabat dengan kura-kura. Si jantan Durbudi, sedangkan si betina Kacapa .
Dan sudah hampir tiba musim kemarau. Air di danau Kumudawati semakin mengering. Kedua angsa, si Cakrangga dan si Cakranggi lalu berpamitan kepada kawan mereka si kura-kura; si Durbudi dan si Kacapa. Katanya:
“Wahai kawan kami akan pergi dari sini. Karena semakin mengering air di danau. Apalagi menjelang musim kemarau. Tidak kuasa kami jauh dari air. Itulah alasannya kami ingin terbang dari sini dan mengungsi ke sebuah danau yang bernama Manasasana yang terletak di pegunungan Himawan . Yang amat murni airnya bening dan dalam. Tidak mengering walaupun musim kemarau datang. Di sanalah tujuan kami kawan.” Begitulah kata si angsa. Maka si kura-kurapun menjawab, katanya:
“Aduhai sahabat, sangat besar cinta kami kepada anda, sekarang anda akan meninggalkan kami, berusaha untuk hidupmu sendiri.
Bukankah keadaannya sama kami dengan anda, tidak bisa jauh dari air? Ke mana pun anda pergi kami akan ikut, dalam suka dan duka. Inilah hasil persahabatan kami dengan kalian.
Angsa menjawab: “Baiklah kura-kura. Kami ada ide. Ini ada kayu, pagutlah olehmu tengah-tengahnya, kami akan memagut ujungnya sana dan sini dengan isteriku. Kuatlah kami nanti membawa terbang kamu, janganlah sampai kendor anda memagut, dan janganlah berbicara, janganlah hendaknya anda tegur juga, Jika ada yang bertanya jangan pula dijawab. Itulah yang harus anda lakukan. Apabila anda tidak mematuhi petunjuk kami maka tak akan berhasil anda sampai ke tempat tujuan, dan akan berakhir mati.”Maka demikianlah kata angsa.
Lalu dipagutlah kayu itu oleh si kura-kura, ujung dan pangkalnya dipatuk oleh angsa. Segera terbang dibawa oleh angsa, akan mengembara ke telaga Manasasara, tempat tujuan yang diharapkannya. Setelah jauh terbang mereka sampailah di atas ladang Wilanggala. Maka adalah anjing jantan dan betina yang bernaung di bawah pohon mangga. Si Nohan nama si anjing jantan, si Babyan nama si betina. Maka si anjing betina mendongak, dan melihat si angsa terbang, yang keduanya sama menerbangkan kura-kura. Lalu katanya.“Wahai bapak , lihatlah itu ada hal yang amat sangat mustahil ada kura-kura yang diterbangkan oleh sepasang angsa!”Lalu si anjing jantan menjawab: “Sungguh mustahil kata-katamu. Sejak kapan ada kura-kura yang dibawa terbang oleh angsa? Itu bukanlah kura-kura tetapi tahi kerbau yang kering, sarang karu-karu! Oleh-oleh untuk anak angsa, begitulah adanya!” Begitulah kata si anjing jantan.
Terdengarlah kata-kata anjing itu oleh kura-kura, marahlah batinnya. Bergetarlah mulutnya kura kura karena dianggap tahi kerbau yang kering, sarang karu-karu.
Maka mengangalah mulut si kura-kura dan lepaslah kayu yang dipagutnya dan jatuhlah ke tanah dan lalu dimakan oleh serigala jantan dan betina.Si angsa malu tidak dipatuhi nasihatnya. Lalu mereka melanjutkan perjalanan melayang ke danau Manasasara.

Baca juga :

Relief Dharmabuddhi dan Dustabuddhi di candi mendut
Relief Dharmabuddhi dan Dustabuddhi

Relief Dharmabuddhi dan Dustabuddhi
Cerita ini mengenai dua orang sahabat anak para saudagar. Disuatu hari Dharmabuddhi menemukan uang lalu ia bercerita kepada kawannya Dustabuddhi. Lalu mereka berdua menyembunyikan uang ini di bawah sebuah pohon. Setiap kali mereka membutuhkan uang, Dharmabuddhi mengambil sebagian uangnya dan membaginya secara adil. Tapi Dustabuddhi tidak puas dan suatu hari mengambil semua uang yang tersisa. Ia lalu menuduh Dharmabuddhi dan menyeretnya ke pengadilan. Tetapi akhirnya Dustabuddhi ketahuan dan dihukum.

Relief Dua burung betet yang berbeda di candi mendut
Relief Dua burung betet yang berbeda

Relief Dua burung betet yang berbeda
Relief ini menceritakan cerita tentang dua burung betet bersaudara tetapi berbeda kelakuannya karena yang satu dididik oleh seorang penyamun. Sedangkan yang satunya dididik oleh seorang pendeta.

, , , , , ,
Artikel Lainya
Latest Posts from JadiWisata.COM