Candi Bubrah Sekarang
Candi Bubrah
Candi Bubrah

Di Jawa Tengah ada Dua buah candi yang bernama Bubrah, yang pertama berada di Desa Tempur, Kecamatan Tempur, Kabupaten Jepara. Sedangkan yang satunya lagi yang berada di Komplek Candi Prambanan, tepatnya di Desa Bugisan, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Kali ini yang akan kita bahas adalah yang berada di Komplek Prambanan.

Candi Bubrah berada di antara Candi Sewu dan Percandian Rara Jonggrang. Dinamakan Bubrah karena saat pertama kali ditemukan kondisi Candi ini dalam keadaan hancur tidak karuan yang dalam bahasa jawa berati Bubrah. Candi bubrah diperkirakan dibangun pada abad ke-9 Masehi, pada masa Kerajaan Mataram kuno, masih satu periode dengan Candi Sewu. Pendiri Candi Bubrah juga diperkirakan masih sama dengan pendiri candi Sewu dan Candi Lumbung, yaitu Rakai Panangkaran yang disebut juga Syailendra Wangsa Tilaka.

Rakai Panangkaran merupakan pemimpin dinasti Syailendra, konon ceritanya dia berpindah agama dari Hindu ke Budha karena perintah dari sang Ayahnda. Sejak saat itu ia menjadi penganut Budha yang taat dan juga membangun candi –candi lain seperti Candi Sara dan Candi Kalasan yang ia persembahkan untuk Dewi Tara. Sayangnya Rakai Panangkaran wafat terlebih dahulu sebelum bangunan itu paripurna, sehingga peresmian candi dilakukan oleh penggantinya yaitu Rakai Panaraban.

Pemugaran Candi Bubrah
Pemugaran Candi Bubrah

Candi Bubrah memiliki luas 12×12 meter dengan jenis batu sama dengan candi-candi umumnya yaitu batu andesit. Candi Bubrah merupakan peninggalan umat Budha, karena saat ditemukan terdapat arca Budha walaupun kondisinya sudah tidak utuh lagi. Pada tahun 2016 Candi Bubrah ini dilakukan pemugaran sehingga candi yang awalya bubrah ini sekarang menjadi candi yang utuh nan indah. Tapi untuk nama tentunya tidak berubah walaupun sudah berganti wajah.

Bangunan Candi Bubrah terkesan tinggi ramping dengan atap stupa yang  menjadi simbol Gunung Meru. Susunan stupa induk menunjukan pada konsep pantheon dalam agama Budha dimana satu stupa dikelilingi delapan stupa, kemudian dikelilingi 16 stupa. Dibagian luar candi terdapat relung-relung berisi arca Dhyani Buddha. Relung utara  berisi Dhyani Buddha Amogasiddhi menghadap utara. Relung barat berisi Dhyani Buddha Amitabha. Relung selatan berisi arca Dhyani Buddha Ratnasambhawa. Sedangkan pada sisi timur relungnya berisi arca Dhyani Buddha Aksobhya. Perbedaan di antara arca Dhyani Buddha itu ada pada posisi duduk dan tangannya. Candi Bubrah seperti dikutip dari laporan Purna Pugar Candi Bubrah terbitan BPCB Jateng, memiliki keunikan yang tidak dimiliki candi-candi Buddha lainnya yaitu adanya motif hiasan taman teratai yang mengisi lapik di bawah padmasina pada Dhyani Buddha.

Candi Bubrah
Candi Bubrah

Keunikan lain dari Candi bubrah adalah pada sisi Filosofis Simbolinya, dimana memiliki Dua konsep sekaligus yaitu konsep Vajradhatu Mandala dan Garbhadhatu Mandala. Dalam agama Hindu konsep ini disebut sebagai lingga dan yoni yang melambangkan Kejantanan dan Keibuan.

Konsep Vajradhatu terlihat dari kehadiran arca Dhayani Budha dari empat arah mata angin, sedangkan konsep Garbhandhatu terliat dari altar dan relung untuk Tri Ratna. Vajradhatu merupakan ritual keagamaan pada masa kuno yang sering dilakukan di Candi Sewu, sedangkan setelah itu ritual dilanjutkan ke Candi Lumbung yang merupakan konsep Garbhadhatu, dan upacara diakhiri di Candi Bubrah yang melambangkan penyatuan dua komponen semesta ini.

Memang tidak banyak yang bisa digali dari candi ini, tapi karena lokasinya yang masih di komplek Candi Prambanan maka anda wajib untuk mengunjunginya karena sebagai pecinta Wisata Sejarah anda pasti akan menemukan sesuatu yang unik dan lain dari Candi Bubrah ini.

Ayoo.. Jadi wisata ? jadi donk….

, , , , , , , , , , ,
Artikel Lainya
Latest Posts from JadiWisata.COM